Pesantrends, Vietnam dan Rusia menandatangani perjanjian tentang pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di negara Asia Tenggara itu, seiring dengan upaya Hanoi memperkuat keamanan energi di tengah gangguan Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan bakar global.
Perjanjian tersebut ditandatangani selama kunjungan Perdana
Menteri Vietnam Pham Minh Chinh ke Rusia, menurut pernyataan di situs jejaring
pemerintah setempat, yang tidak menyebutkan kapan pembangunan akan dimulai.
Selama kunjungan tersebut, produsen gas alam cair atau liquefied
natural gas (LNG) terbesar Rusia, Novatek, juga menandatangani
kesepakatan awal untuk memasok Vietnam, lapor situs berita Tass
pada Senin (23/3/2026).
Vietnam telah berupaya memperkuat keamanan energi setelah
perang Iran hampir menghentikan ekspor minyak dan gas melalui Selat Hormuz,
yang menyebabkan kenaikan harga bahan bakar dan antrean panjang di stasiun
pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Pemerintah telah menetapkan rencana untuk langkah-langkah
penghematan bahan bakar, termasuk peralihan ke kendaraan listrik dan
mempercepat penggunaan biofuel.
Vietnam juga telah mencari bantuan dari mitra termasuk
Jepang, Korea Selatan, Angola, dan Aljazair untuk mendiversifikasi sumber
minyak mentah.
Vietnam memiliki dua kilang minyak domestik yang menyediakan
sekitar 70% kebutuhan domestiknya, tetapi lebih dari 80% minyak mentah yang
diimpornya berasal dari Timur Tengah.
Vietnam telah mendorong Rusia untuk mempercepat pengembangan
pembangkit listrik tenaga nuklir Ninh Thuan 1, yang ingin dioperasikan paling
lambat sebelum akhir 2031.
Proyek ini direncanakan memiliki dua reaktor rancangan Rusia
dengan kapasitas gabungan sekitar 2.400 MW.
Kedua negara juga sepakat untuk memperluas kerja sama di
bidang energi baru, energi bersih, dan energi terbarukan, menurut pernyataan
tersebut.
Vietnam dan Rusia memiliki hubungan kerja sama energi yang
luas selama beberapa dekade, termasuk usaha patungan antara PetroVietnam dan
perusahaan milik negara Rusia termasuk Zarubezhneft dan Gazprom.
Vietsovpetro, sebuah usaha patungan yang dibentuk antara
negara Asia Tenggara dan Uni Soviet pada 1981, telah mengebor 36 sumur di
Vietnam dalam lima tahun terakhir.
Selama kunjungan Ketua Partai To Lam ke Moskwa tahun lalu,
kedua negara sepakat untuk memperluas kerja sama dalam eksplorasi geologi dan
produksi minyak dan gas di landas kontinen Vietnam dan di Rusia.