Main Dua Kaki? RI Borong Minyak AS Rp253 Triliun, Tapi Diam-Diam "PDKT" BBM ke Rusia!

An oil pumping jack in an oil field istockphoto

Pesan News, Jakarta - Pemerintah Indonesia tampaknya sedang memainkan strategi "diplomasi energi" yang sangat berani di tahun 2026. Di satu sisi, Jakarta terikat komitmen jumbo senilai US$15 miliar atau setara Rp253 triliun untuk mengimpor migas dari Amerika Serikat (AS). Namun di sisi lain, radar Jakarta kini tertangkap sedang membidik pasokan bahan bakar dari Moskow.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya buka suara terkait manuver ini. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, memastikan bahwa PT Pertamina (Persero) sudah mulai bergerak mengeksekusi kesepakatan impor dari Negeri Elang Bondol tersebut.

 

Komitmen Rp253 Triliun: Paman Sam Minta Jatah Utama

Berdasarkan dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dirilis Gedung Putih pada 19 Februari 2026 lalu, Indonesia memang memiliki "pekerjaan rumah" yang sangat besar. Kesepakatan tarif resiprokal tersebut mewajibkan Indonesia memfasilitasi pembelian produk energi AS dengan rincian yang fantastis:

  • BBM (Bensin Olahan): US$7 miliar (sekitar Rp118,26 triliun).
  • Minyak Mentah (Crude): US$4,5 miliar (sekitar Rp76,02 triliun).
  • LPG: US$3,5 miliar (sekitar Rp59,13 triliun).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan sempat mengonfirmasi di kantornya bahwa keran impor minyak mentah dari AS sudah mulai mengalir. Meski begitu, untuk urusan BBM, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia sejauh ini belum mengambil pasokan dari Washington.

 

Kode Keras dari Rusia: Tak Cuma Minyak Mentah, BBM Juga Dibidik

Di tengah kewajiban memborong produk AS, pemerintah Indonesia ternyata tidak lantas menutup mata pada peluang lain. Laode Sulaeman memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia kini sedang menjajaki impor BBM dari Rusia, melengkapi rencana pembelian minyak mentah dan LPG yang sudah diumumkan sebelumnya.

"Tim dari Ditjen Migas saat ini masih berada di Rusia untuk menyiapkan teknis impornya. Kemarin kan baru crude dan LPG yang diumumkan, tapi BBM juga sangat penting," ujar Laode saat ditemui di kompleks DPR RI pada Rabu (15/4/2026). Langkah ini menandakan Indonesia ingin mengamankan kontrak jangka panjang dengan Moskow guna menjamin ketahanan energi nasional.

 

Realitas Data BPS: Nigeria Masih Jadi Raja

Meski komitmen dengan AS dan Rusia terus digodok, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peta kekuatan impor minyak mentah Indonesia di awal tahun 2026 masih didominasi pemain lama.

Sepanjang Januari hingga Februari 2026, Indonesia telah mengimpor total 2,9 juta ton minyak mentah. Menariknya, dalam daftar 10 besar negara pemasok yang dirilis BPS, nama Amerika Serikat maupun Rusia belum nangkring di posisi puncak. Nigeria masih menjadi penguasa dengan pasokan mencapai 767.905 ton, disusul oleh Angola (689.504 ton) dan Arab Saudi (514.422 ton).

Manuver "main dua kaki" antara Washington dan Moskow ini diprediksi akan menjadi ujian berat bagi netralitas politik luar negeri Indonesia, mengingat besarnya nilai kontrak dan sensitivitas geopolitik yang menyertainya.

 

You are free to comment on this blog, but do not until there are elements of SARA and PORNOGRAFI.Thanks :)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال