Emas Antam Melemah Rp 5.000: Efek Sinyal Damai Trump vs Bayang-bayang Bunga Tinggi

Karyawan menata emas Logam Mulia Antam di Toko Mas Bintang Timur, Jakarta, Rabu (7/1/2026)

Pesan News, Jakarta - Pesta pora kenaikan harga emas batangan akhirnya menemui titik jenuh. Setelah sempat melesat gila-gilaan beberapa hari terakhir, harga emas produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) terpaksa "tiarap" pada perdagangan Kamis (16/4/2026).

Logam mulia Antam hari ini dipatok di level Rp 2.888.000 per gram, tergerus Rp 5.000 dari posisi sebelumnya. Sementara itu, bagi investor yang berniat mencairkan asetnya, harga buyback atau pembelian kembali masih jalan di tempat pada angka Rp 2.674.000 per gram.

 

Eforia “Profit Taking” di Pasar Global

Anjloknya harga lokal ini merupakan buntut dari loyonya harga emas dunia di pasar spot yang ditutup pada level US$ 4.809,2 per troy ons, alias terkoreksi 0,68%.

Para analis menilai koreksi ini adalah hal yang lumrah. Mengingat pada Selasa (14/4), emas sempat mencetak rekor tertinggi bulanan setelah melonjak lebih dari 2%. Kondisi ini memicu para pemburu cuan untuk melakukan aksi profit taking massal guna mengamankan keuntungan selagi harga masih berada di puncak.

 

Manuver Damai Trump: Kabar Baik bagi Dunia, Kabar Buruk bagi Emas

Selain faktor teknis, stabilitas geopolitik Timur Tengah menjadi "peluru" yang menjatuhkan harga emas. Presiden AS, Donald Trump, secara terang-terangan menebar optimisme perdamaian antara Washington dan Teheran.

Dalam wawancara eksklusifnya dengan Fox Business, Trump mengklaim bahwa bara perang sudah "sedikit lagi selesai". Narasi senada juga ia sampaikan melalui New York Post, yang menyebutkan bahwa komunikasi intensif terus dijalankan demi mencapai kata sepakat. Meski pasar masih trauma dengan kegagalan dialog di Islamabad akhir pekan lalu, pernyataan Trump ini cukup kuat untuk membuat investor mulai melepas aset aman (safe haven) mereka.

 

Harga Emas Logam Mulia Antam 16 April 2026 (Sumber: Logam Mulia)

 

Hantu Suku Bunga: Emas Terjepit 'Higher for Longer'

Di sisi lain, risiko ekonomi makro masih menjadi hantu yang menakutkan bagi komoditas emas. Mengacu pada laporan yang dilansir Bloomberg News, Dilin Wu selaku Research Strategist di Pepperstone Group Ltd mengungkapkan bahwa pasar kini terjepit di antara harapan damai dan ancaman inflasi yang membandel.

Wu menegaskan jika inflasi tidak kunjung reda, bank sentral kemungkinan besar akan tetap mengunci suku bunga tinggi dalam waktu yang lama (higher for longer). "Tanpa adanya imbal hasil (yield), emas secara alami akan menghadapi tembok besar untuk terus merangkak naik," jelas Wu dalam narasinya kepada media. Kondisi bunga tinggi ini secara otomatis membuat emas kehilangan daya tariknya jika dibandingkan dengan instrumen deposito atau obligasi yang lebih menjanjikan.

 


You are free to comment on this blog, but do not until there are elements of SARA and PORNOGRAFI.Thanks :)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال