| Insiden penembakan saat Presiden Trump menghadiri makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih (25/4/2026). |
Pesan News - Ibu kota Amerika Serikat nyaris menjadi saksi bisu tragedi berdarah pada akhir pekan lalu. Seorang pria asal California, Cole Tomas Allen (31), kini resmi didakwa atas upaya pembunuhan terhadap Presiden AS Donald Trump dalam sebuah serangan terencana di tengah jamuan makan malam mewah di Washington.
Dalam sidang perdana di pengadilan federal pada Senin
(27/4/2026), Allen tampil tenang meski dibayangi ancaman hukuman penjara seumur
hidup. Pria lulusan teknik mesin dari kampus elit Caltech ini tidak
hanya dijerat pasal percobaan pembunuhan, tetapi juga rentetan pelanggaran
berat terkait kepemilikan senjata api.
Persenjataan Lengkap dan Baku Tembak di Lantai Ballroom
Dokumen tuntutan yang diajukan oleh Kejaksaan AS di District
of Columbia membeberkan detail mengerikan mengenai persiapan Allen. Sang
insinyur ini rupanya telah mengumpulkan persenjataan secara diam-diam selama
bertahun-tahun.
Berdasarkan profil intelijen yang ditinjau oleh Bloomberg,
Allen diketahui membeli senapan pompa Maverick kaliber 12 pada Agustus
tahun lalu serta pistol semi-otomatis pada 2023. Saat diringkus di Hotel
Washington Hilton, jaksa menyatakan Allen membawa:
- Satu
pucuk senapan shotgun.
- Satu
unit pistol.
- Tiga
bilah pisau.
Insiden Sabtu malam itu memicu kekacauan luar biasa. Saat
para jurnalis dan pejabat tinggi berkumpul untuk acara tahunan White House
Correspondents’ Association (WHCA), Allen mencoba menerobos masuk. Laporan
awal menyebutkan ia sempat melepaskan tembakan dari senapannya sebelum petugas
keamanan membalas dengan lima tembakan panas.
Evakuasi Darurat: Target dari "Atas ke Bawah"
Aksi nekat Allen memaksa agen keamanan segera mengevakuasi
Presiden Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan jajaran menteri kabinet dari
lokasi. Jaksa AS, Jeanine Pirro, menegaskan bahwa Allen memiliki daftar target
yang sangat spesifik, yakni pejabat pemerintah dengan prioritas "dari
tingkat paling atas ke bawah."
Meskipun kuasa hukum tersangka mengeklaim kliennya tidak
memiliki riwayat kriminal, sebuah manifesto yang dikirimkan Allen kepada
keluarganya menjadi bukti krusial. Meski tidak menyebut nama Trump secara
eksplisit, dokumen tersebut diyakini kuat merujuk pada sang presiden sebagai
target utama.
Penegak Hukum: "Kami Tidak Gagal"
Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche membela
habis-habisan kinerja aparat keamanan dalam konferensi pers usai persidangan.
Ia membantah adanya celah keamanan yang membuat nyawa presiden terancam secara
langsung.
"Penegak hukum tidak gagal. Pria ini berada satu lantai
di atas ballroom dengan ratusan agen federal yang berdiri kokoh di
antara dirinya dan Presiden Amerika Serikat," tegas Blanche. Ia juga
meyakini bahwa berdasarkan penyelidikan sementara, Allen bertindak sebagai
pelaku tunggal (lone wolf), meskipun tim penyidik tetap mendalami
kemungkinan hubungannya dengan organisasi sayap kiri.
Perjalanan Allen menuju Washington sendiri tergolong sangat
terencana. Ia menempuh perjalanan darat menggunakan kereta dari Los Angeles,
transit di Chicago, hingga akhirnya tiba di Washington pada 24 April—tepat tiga
hari sebelum ia memutuskan untuk melancarkan serangan yang hampir mengubah
sejarah Amerika tersebut.