BI: Perang AS-Iran Picu Perlambatan Ekonomi Global-Kerek Inflasi

 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat Pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (19/2/2025). (Youtube Bank Indonesia)

 

Pesantrends, Jakarta - Bank Indonesia menyebut eskalasi yang terjadi di Timur Tengah memicu perlambatan ekonomi global dan mengerek inflasi di seluruh dunia. Hal ini terjadi sebagai imbas melonjaknya harga komoditas akibat perang tersebut.

“Jadi tentu saja yang pertama adalah dampaknya terhadap harga minyak dunia dan rembatannya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan inflasi global yang tadi kami sampaikan memang akan membawa pertumbuhan ekonomi global lebih rendah, inflasi global akan lebih tinggi.” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (17/12/2025).

Perry bilang saat ini pasar keuangan global sudah terkena dampak buruk akibat perang di Timur Tengah yang masih berlangsung tersebut.

Salah satu yang paling terasa adalah aliran modal portfolio asing itu keluar dari negara-negara emerging market termasuk Indonesia. 

“Demikian juga tekanan-tekanan terhadap nilai tukar dengan menguatnya dolar Amerika Serikat tentu saja terjadi tekanan-tekanan terhadap nilai tukar mata uang emerging market termasuk Indonesia.” kata Perry.

Selain itu hal ini berpengaruh pada tingginya yield US treasury di Amerika yang berdampak juga tingginya suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Oleh karenanya, Perry menyebut bahwa Bank Indonesia sudah melakukan perhitungan dan skenario terkait potensi durasi eskalasi global yang ada di Timur Tengah tersebut.

“Skenario-skenario ini yang kemudian dari sisi instrumen kami akan terus mengkalibrasi optimalitas antara kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respon mengenai suku bunga.” tambahnya.

Menurutnya, kalibrasi optimalitas antara ketiga hal tersebut akan tergantung pada seberapa jauh eskalasi perang timur-tengah akan berlanjut dan dampaknya terhadap harga minyak, pertumbuhan ekonomi dan inflasi global, dampaknya terhadap dolar Amerika, aliran portfolio keluar dari emerging market, dan tingginya US treasury.

Salah satu sinyal yang diberikan oleh BI adalah rencananya untuk tak lagi memangkas suku bunga, menggeser fokus kebijakan ke arah stabilitas di tengah dinamika geopolitik yang terus memanas.

Sebagai informasi, BI memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate tetap di level 4,75%, sesuai dengan ekspektasi konsensus.

 

You are free to comment on this blog, but do not until there are elements of SARA and PORNOGRAFI.Thanks :)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال