Pesantrends, Jakarta - Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar
minyak (BBM) subsidi tidak akan naik di tengah melambungnya harga minyak
global.
Dia mengatakan kepastian tersebut lantaran anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) diklaimnya masih kuat menanggung kenaikan
harga minyak global, meski menyentuh US$100/barel.
"Berapa harga subsidinya, itu kita lihat perkembangan geopolitik. Tapi kalau dengan harga insya Allah, kalau US$100, rata-rata sekarang kan US$70. Kalau mau 100 dolar, itu insya Allah masih dalam koridor APBN, masih bisa kita exercise," ujarnya di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Pemerintah sendiri menetapkan harga minyak atau Indonesian
Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 di level US$70/barel.
Dalam kesempatan lain, Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan simulasi dampak kenaikan harga
minyak mentah.
Dalam skenario terburuk, Airlangga justru mengatakan jika
rata-rata harga minyak menembus US$115/barel, maka defisit APBN bakal melebar
hingga 4,06% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga
US$115 per barel, kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2%, surat berharganya
7,2%, defisitnya 4,06%,” kata Airlangga dalam sidang Kabinet Paripurna, Jumat
(13/3/2026) lalu.
Mulanya, Airlangga mengungkap realisasi harga minyak
Indonesia (ICP) pada awal tahun masih relatif di bawah asumsi APBN sebesar
US$70 per barel. Pada Januari tercatat US$64,41 per barel dan pada Februari
US$68,79 per barel.
Pada skenario pertama, dengan rata-rata ICP sekitar US$90
per barel sepanjang 2026, kurs rupiah diasumsikan Rp17.000 per dolar AS dengan
pertumbuhan ekonomi 5,3%, imbal hasil surat berharga negara diperkirakan 6,8%,
sehingga defisit APBN diproyeksikan mencapai 3,18% PDB.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan
Iran terjadi selama 5 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107
per barel dalam periode perang tersebut.
Sementara pada skenario moderat, jika harga minyak
sepanjang tahun ini sebesar US$97 per barel, kurs rupiah Rp17.300 per dolar AS,
pertumbuhan ekonomi 5,2%, tingkat bunga surat berharga negara sekitar 7,2%.
Pada skenario ini, defisit APBN berpotensi melebar menjadi 3,53% PDB.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan
Iran terjadi selama 6 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107
per barel dalam periode konflik tersebut.
Sedangkan pada skenario terburuk, ketika rata-rata harga
minyak mencapai US$115 per barel, kurs rupiah diasumsikan melemah hingga
Rp17.500 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,2% dan imbal hasil surat
berharga negara 7,2%.
Dalam kondisi tersebut, Airlangga memprediksi defisit
APBN mencapai 4,06% terhadap PDB.
Airlangga mengungkapkan skenario tersebut dapat terjadi
jika perang berlangsung selama 10 bulan dan harga minyak mentah menyentuh level
US$130 per barel dalam periode perang tersebut.
Dengan berbagai simulasi tersebut, Airlangga menyatakan
target defisit APBN sebesar 3% bakal sulit dipertahankan apabila harga minyak
melonjak tajam.
“Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang
3% itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong
pertumbuhan, Pak Presiden,” kata dia.