![]() |
Gambar ilustrasi yang di olah oleh Ramdan - Pesan News |
Pesan News, Jakarta - Rencana ambisius pemerintah
untuk menerapkan bahan bakar nabati Biodiesel 50% (B50) sepertinya tidak akan
tertunda. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia,
menebar optimisme bahwa kebijakan mandatori B50 siap dieksekusi tepat pada 1
Juli 2026. Namun, di balik rasa percaya diri tersebut, tanda tanya besar
masih menggantung terkait kesiapan fasilitas produksi di dalam negeri.
Ditemui di Kantor Kementerian ESDM pada Jumat (10/4/2026),
Bahlil mengungkapkan bahwa progres road test (uji jalan) B50 kini telah
menyentuh angka 60% hingga 70%.
"Uji coba ini tidak main-main, kita tes di alat berat,
kereta api, kapal, sampai mobil penumpang. Insyaallah, targetnya Mei atau Juni
hasil akhirnya keluar, dan 1 Juli sudah bisa jalan," tegas Bahlil.
Mesin Aman, Tapi Boros Sedikit?
Klaim Bahlil didukung oleh data teknis dari lapangan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya
Listiani Dewi, merilis laporan sementara uji coba mesin diesel pada sektor
pertambangan per akhir Maret 2026.
Hasilnya cukup melegakan: setelah digeber lebih dari 900
jam operasional (uji ketahanan dinamis), B50 terbukti stabil dan tidak
memicu kerusakan fatal pada mesin berat.
Namun, ada satu catatan menarik. Penggunaan B50 ternyata
membuat kendaraan sedikit lebih 'haus' dibandingkan pendahulunya, B40. Eniya
mengakui adanya lonjakan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12%. Kendati
demikian, ia menjamin peningkatan tersebut masih dalam ambang batas toleransi
dan tidak mengganggu produktivitas industri.
Misteri Kapasitas Pabrik: Bahlil Bungkam, Asing Ragu
Ujian sesungguhnya dari program B50 rupanya bukan di
jalanan, melainkan di kilang pengolahan. Saat dicecar mengenai kapasitas pabrik
biodiesel yang ada saat ini, Menteri Bahlil memilih irit bicara dan hanya
menyebut bahwa ESDM sedang mengebut penyesuaian. "Insyaallah sudah ada
solusi kok. Nanti saya jelaskan kalau sudah selesai ya," dalihnya.
Sikap tertutup pemerintah ini berbenturan keras dengan
analisis dari lembaga riset internasional. BMI, unit riset di bawah bendera
Fitch Solutions (Fitch Group), merilis laporan tajam berjudul: >
"Indonesia Biofuel Outlook — Ambitions of B50 in 2026 Unlikely to be
Met."
Dalam laporan tersebut, tim analis BMI membedah fakta
defisit kapasitas kilang biodiesel domestik yang bisa mengancam peluncuran B50:
- Proyeksi
Konsumsi 2026: Kebutuhan solar jalan raya diprediksi meroket 6,5%
menjadi 40,9 juta kiloliter (kl).
- Beban
B50: Untuk mencampur 50% sawit ke dalam solar tersebut, Indonesia
butuh pasokan biodiesel murni sebanyak 20,5 juta kl.
- Realita
Pabrik Saat Ini: Kapasitas maksimal produksi biodiesel domestik RI
saat ini baru mentok di angka 19,6 juta kl.
Artinya, target kebutuhan B50 jelas melampaui kemampuan
produksi pabrik yang ada. Sebagai perbandingan, pada era B40 (tahun 2025),
kebutuhan biodiesel 'hanya' di kisaran 15,4 juta kl, yang mana masih memakan
sekitar 78,6% dari total kapasitas pabrik saat ini.
"Target B50 pada tahun 2026 dinilai sangat sulit
tercapai tanpa adanya tambahan kilang baru untuk memperbesar kapasitas
domestik," tulis tim analis BMI dalam kesimpulannya.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Sanggupkah Indonesia menyulap kapasitas pabriknya hanya dalam hitungan bulan sebelum tenggat waktu 1 Juli 2026?
