Foto oleh Li Gang/Xinhua/Getty Images |
Pesan News - Di saat dunia baru saja bernapas lega
menyambut gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran, sebuah laporan intelijen
AS justru memicu ketegangan baru. China, yang sebelumnya dipuja-puji sebagai
pahlawan perdamaian, kini dicurigai sedang bersiap mengirimkan pasokan sistem
pertahanan udara canggih ke Teheran dalam beberapa minggu ke depan.
Mengutip laporan dari CNN yang bersumber dari pihak
internal yang mengetahui masalah ini, Beijing disebut-sebut akan memasok rudal
permukaan-ke-udara jenis MANPADS (Man-Portable Air Defense Systems).
Ancaman MANPADS: Kecil, Gesit, Mematikan
Bukan tanpa alasan Washington panik mendengar kabar ini.
MANPADS adalah rudal taktis yang ditembakkan dari bahu. Keistimewaan mematikan
dari senjata ini terletak pada desainnya yang sangat ringkas: cukup
dioperasikan oleh satu orang, sangat mudah diangkut, dan gampang disembunyikan
di medan perang.
Saking berbahayanya sistem pertahanan ini, Amerika Serikat
selama beberapa dekade terakhir menjadikan pencegahan proliferasi (penyebaran)
MANPADS sebagai prioritas keamanan utama mereka.
Bantahan Keras Kedutaan China
Menanggapi bola liar ini, pihak Beijing langsung pasang
badan. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington membantah mentah-mentah
tuduhan intelijen Paman Sam kepada jaringan CNN.
“China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana
pun dalam konflik yang sedang berlangsung. Informasi yang beredar tersebut sama
sekali tidak benar,” tegas perwakilan kedutaan tersebut.
Ironi Sang Penengah dan Misi Kritis JD Vance
Jika isu transfer senjata ini terbukti benar, hal ini akan
memunculkan ironi besar dan mempertanyakan posisi netralitas Beijing. Pasalnya,
baru beberapa hari yang lalu, raksasa Asia ini mendapat apresiasi global karena
perannya sebagai 'broker' yang memuluskan kesepakatan gencatan senjata dua
pekan antara AS dan Iran.
Bocoran manuver Tiongkok ini seolah mengonfirmasi perubahan
strategi diplomatik Beijing: dari yang dulunya selalu 'duduk di bangku
cadangan' saat ada konflik negara lain, kini aktif memanfaatkan pengaruhnya
untuk menekan semua pihak yang bertikai.
Lebih krusial lagi, rumor ini meledak di waktu yang sangat
sensitif. Pada akhir pekan ini, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan
turun gunung memimpin delegasi Washington terbang ke Islamabad, Pakistan.
Mereka akan duduk satu meja dengan para pejabat tinggi Iran.
Pertemuan tingkat tinggi di Islamabad ini akan menjadi ajang
penentuan nasib dunia: apakah gencatan senjata ini akan berubah menjadi
perdamaian yang permanen, atau justru hancur berkeping-keping di tengah
bayang-bayang rudal kiriman Beijing.