DPR 'Kuliti' Klaim Swasembada Mentan Amran: Banggakan Stok Beras Tertinggi, Tapi Rapor Impor Masih Merah?

Mentan Amran Sulaiman menyebut cadangan beras Indonesia saat ini menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah. Stok beras nasional dipastikan aman. (Foto: CNN Indonesia/Dela Naufalia)




Pesan News, Jakarta - Klaim gemilang Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terkait ketahanan pangan dan pencapaian swasembada justru memicu polemik di Senayan. Komisi IV DPR RI secara terang-terangan meragukan narasi surplus tersebut di tengah kenyataan bahwa perut masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan negara lain.

Dalam rapat kerja di Gedung Parlemen pada Selasa (7/4/2026), Mentan membanggakan cadangan stok beras nasional yang menyentuh angka 4,59 juta ton—diklaim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah dan cukup untuk mengamankan kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.

Namun, anggota Komisi IV dari Fraksi PDIP, Sadarestuwati, langsung menuntut transparansi. Ia mendesak pemerintah untuk tidak hanya menyodorkan angka di atas kertas, melainkan memastikan validitasnya di lapangan.

"Stok beras disebut aman 11 bulan. Tapi saya minta data ini benar-benar apa adanya. Kami butuh data riil yang membuktikan bahwa kondisi ini memang benar terjadi di lapangan," tegasnya.


Ilustrasi daging olahan (Envato)


Narasi 'Surplus Semu' di Balik Tingginya Impor

Kritik lebih tajam datang dari Johan Rosihan, anggota Fraksi PKS. Ia menilai kebanggaan atas surplus beras tidak bisa menutupi rapuhnya ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.

Johan membeberkan deretan rapor merah komoditas strategis yang masih disetir oleh impor. "Gandum kita 100% impor dengan defisit mencapai 3,4 juta ton. Kedelai impor 2,5 juta ton, padahal produksi lokal cuma sanggup 300 ribu ton. Belum lagi pakan ikan yang 89% impor, dan daging yang 30-40% pasokannya dari luar," cecarnya.


Ilustrasi gambar olahan oleh Pesan News




Jejak Rekam Impor Pangan RI: Benarkah Mulai Turun?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, bayang-bayang ketergantungan impor pangan Indonesia memang masih sangat pekat sejak 2024, meski ada beberapa penyesuaian di 2025:

  • Beras: Dari Kelas Medium ke Premium Pada tahun 2024, RI melakukan impor beras gila-gilaan sebanyak 4,51 juta ton (mayoritas kelas medium). Pemasok utamanya adalah Thailand (1,36 juta ton), Vietnam (1,24 juta ton), dan Myanmar (831,3 ribu ton). Memasuki 2025, impor beras medium resmi disetop. Namun, RI tetap mendatangkan 364,3 ribu ton beras giling putih yang diperuntukkan sebagai beras kelas khusus atau premium.
  • Kedelai: Amerika Masih Jadi 'Raja' Sepanjang 2024, impor kedelai menembus 2,68 juta ton, di mana Amerika Serikat memonopoli pasokan (2,37 juta ton) disusul Kanada (261,5 ribu ton). Pada 2025, angka ini hanya menyusut tipis 4,48% menjadi 2,56 juta ton.
  • Gandum: Masih Terjebak 100% Impor Sebagai negara yang tak memproduksi gandum, Indonesia mendatangkan 11,71 juta ton bijih gandum dan meslin sepanjang 2024 (dominasi Australia 2,99 juta ton, Kanada 2,54 juta ton, dan Ukraina 2,40 juta ton). Angka impor ini tercatat turun pada 2025 menjadi 6,91 juta ton, dengan Australia, Kanada, dan Argentina sebagai pemasok utama.
  • Daging Sapi: Anjlok Signifikan Impor daging mencatatkan penurunan paling dramatis. Jika pada 2024 RI mengimpor 183,1 ribu ton (didominasi daging India 113,6 ribu ton dan Australia 40,88 ribu ton), pada 2025 volume impornya berhasil ditekan tajam menjadi hanya 48,10 ribu ton.

Pernyataan keras dari DPR ini seakan menjadi alarm bagi pemerintah. Apakah cadangan beras yang diklaim melimpah ini benar-benar bisa menjadi tameng ketahanan pangan, atau sekadar pemanis di tengah ancaman ketergantungan impor komoditas lainnya?

 

You are free to comment on this blog, but do not until there are elements of SARA and PORNOGRAFI.Thanks :)

Lebih baru Lebih lama
Pesantrends

نموذج الاتصال