![]() |
| Aksi serangan pasukan Israel ke wilayah Lebanon |
Pesan News - Di tengah dentum meriam yang masih menggema di perbatasan, sebuah meja perundingan kritis akan digelar di jantung Amerika Serikat. Duta Besar Lebanon, Nada Hamadeh, dan Duta Besar Israel, Yechiel Leiter, dijadwalkan duduk satu meja di Washington, DC, pada Selasa (14/4/2026) pukul 11.00 waktu setempat.
Pertemuan yang difasilitasi langsung oleh Menteri Luar
Negeri AS, Marco Rubio, ini menjadi babak baru upaya gencatan senjata langsung.
Berdasarkan agenda Departemen Luar Negeri AS, fokus utama pembicaraan adalah
penghentian permusuhan, pengaturan perdamaian jangka panjang, hingga isu paling
sensitif: pelucutan senjata Hizbullah.
Hizbullah Berang: "Negosiasi Ini Sia-sia!"
Meski lampu hijau diberikan oleh pemerintah Lebanon,
kelompok Hizbullah bereaksi keras. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam
pidato televisinya pada Senin (13/4), menyerukan boikot total terhadap
pertemuan di Washington tersebut.
Qassem menilai perundingan ini hanyalah jebakan diplomatik
untuk mempreteli kekuatan militer mereka. Ia mendesak pemerintah Lebanon agar
mengambil sikap "heroik" dengan tetap berada di dalam negeri guna
menghadapi agresi Israel.
"Bagaimana mungkin Anda datang ke negosiasi yang
tujuannya sudah ditentukan oleh Netanyahu untuk melucuti senjata kami? Kami
tidak akan menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang yang
berbicara sendiri," tegas Qassem dengan nada menantang.
Kilas Balik: Tragedi Maret 2026 dan Bayang-bayang
Khamenei
Eskalasi besar yang terjadi saat ini merupakan rentetan dari
peristiwa kelam di awal Maret lalu. Meski gencatan senjata formal sejatinya
sudah ada sejak November 2024, stabilitas kawasan hancur total setelah insiden
besar di akhir Februari.
Hizbullah mengeklaim serangan roket besar-besaran mereka
pada 2 Maret merupakan aksi balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah
Ali Khamenei, oleh operasi AS dan Israel dua hari sebelumnya. Insiden ini
pula yang menandai pecahnya konflik terbuka antara aliansi AS-Israel melawan
Iran di tahun 2026.
Harga Mahal Sebuah Perang
Di balik perdebatan politik di Washington, warga sipil
Lebanon menanggung beban paling berat. Sejak invasi darat dan pemboman intensif
Israel dimulai kembali bulan lalu, statistik kemanusiaan menunjukkan angka yang
mengerikan:
- Korban
Jiwa: Setidaknya 2.055 orang tewas (termasuk 165 anak-anak dan 87
petugas medis).
- Korban
Luka: Lebih dari 6.500 orang.
- Pengungsi:
Sekitar 1,2 juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Kini, mata dunia tertuju pada Washington. Apakah pertemuan
Hamadeh dan Leiter di bawah pengawasan Marco Rubio mampu meredam amarah di
medan perang, ataukah sumpah Naim Qassem untuk terus bertempur akan mengubah
Lebanon menjadi palagan yang lebih berdarah?
