| Gula kristal putih kasar. |
Pesan News, Jakarta - Cita-cita kemandirian pangan
Indonesia kembali diuji. Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS)
mengungkap fakta pahit di balik manisnya gula: produksi nasional sepanjang
tahun 2025 tercatat hanya mampu menyentuh angka 2,67 juta ton. Padahal, nafsu
konsumsi dalam negeri melesat jauh hingga mencapai 6,33 juta ton.
Meski angka produksi tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan
positif sebesar 8,10% dibandingkan tahun sebelumnya (2,47 juta ton pada 2024),
celah antara pasokan dan permintaan masih menganga lebar.
Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, dalam rapat
dengar pendapat bersama Komisi VI DPR pada Rabu (8/4/2026), menjelaskan bahwa
peningkatkan produksi ini tertolong oleh meluasnya area panen tebu.
Jurang Konsumsi dan Dominasi Impor Brasil
Ke mana larinya jutaan ton gula tersebut? BPS merinci bahwa
kebutuhan khusus rumah tangga menyedot nyaris 1,5 juta ton. Namun, 'monster'
konsumsi sesungguhnya ada di sektor non-rumah tangga, termasuk industri, yang
melahap sekitar 3,9 juta ton. Ditambah sektor perhotelan, restoran, dan
katering (Horeka), totalnya mencapai 6,33 juta ton.
Untuk menutupi defisit raksasa ini, keran impor terpaksa
dibuka lebar. BPS mencatat sepanjang 2025, Indonesia harus mendatangkan 3,93
juta ton gula dari luar negeri.
"Impor kita paling banyak berasal dari beberapa negara, dengan Brasil sebagai salah satu pemasok utama," ungkap Sonny. Ia menambahkan, kendati pasokan domestik menunjukkan tren perbaikan, ketergantungan Indonesia terhadap gula asing masih sangat kronis.
| Produksi dan Kebutuhan Gula RI. (BPS) |
Suntikan Rp1,7 Triliun Demi Misi Mustahil 2027?
Di tengah bayang-bayang defisit, Menteri Pertanian (Mentan)
Andi Amran Sulaiman tampil membawa janji optimis: Indonesia akan swasembada
gula konsumsi pada tahun 2027.
Strategi utamanya adalah 'operasi bedah' di sektor hulu
melalui peremajaan lahan tebu seluas 100.000 hektare setiap tahun. Proyek
ambisius ini tidak murah, pemerintah siap menggelontorkan dana hibah APBN
sebesar Rp1,7 triliun khusus untuk tahun 2025.
"Kami sudah mengambil langkah bersama pihak swasta dan
PTPN. Dana hibah Rp1,7 triliun dari APBN 2025 sudah disiapkan untuk peremajaan
ini," tegas Mentan Amran.
Langkah drastis ini diambil lantaran mayoritas lahan tebu di
Indonesia sudah 'tua' akibat praktik ratoon (tebu keprasan berulang)
yang merusak produktivitas. Idealnya, 25% lahan harus diremajakan berkala,
namun realita di lapangan baru menyentuh angka 10%.
Amran bahkan menyinggung sejarah panjang kemerosotan ini.
"Di era 1930-an, produktivitas kita mencapai 14 ton gula per hektare.
Pasca-kemerdekaan hingga kini, hitungan kami merosot jadi hanya 4,9 ton per
hektare," keluhnya.
Fakta Defisit di Atas Kertas
Berdasarkan pemaparan Mentan, hitung-hitungan kondisi
pergulaan nasional saat ini adalah sebagai berikut:
- Luas
Areal Panen Eksisting: 563,3 ribu hektare.
- Produktivitas
Tebu: 69,35 ton per hektare.
- Produksi
Gula Kristal Putih (GKP): 2,67 juta ton.
- Kebutuhan
Nasional: GKP (2,8 juta ton) + Gula Kristal Rafinasi untuk industri
(3,9 juta ton) = Total 6,7 juta ton.
Dengan hitungan versi Kementerian Pertanian ini, Indonesia
secara riil masih kekurangan pasokan sekitar 4,03 juta ton untuk
mengamankan seluruh kebutuhan gula nasional, baik untuk cangkir kopi masyarakat
maupun mesin-mesin industri.