![]() |
| Gubernur-Gubernur Bank Sentral ASEAN |
Pesan News, Jakarta - Di tengah ancaman badai volatilitas arus modal dan tensi geopolitik global yang kian memanas, negara-negara di kawasan Asia Tenggara menolak untuk sekadar bertahan. Sebelas negara anggota merapatkan barisan dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) ke-13 yang digelar pada Jumat (10/4/2026).
Berada di bawah komando Filipina—dipimpin oleh Menteri
Keuangan H.E. Frederick D. Go dan Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas H.E. Eli
M. Remolona, Jr.—pertemuan strategis ini melahirkan kesepakatan krusial.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta,
yang hadir mewakili Gubernur BI, pada Senin (13/4/2026) mengungkapkan bahwa
ASEAN telah mengunci tiga Prioritas Hasil Ekonomi (Priority Economic
Deliverables/PEDs) sebagai senjata utama mengamankan kawasan.
3 “Jurus” Utama Keluar dari Jebakan Krisis
Langkah antisipatif ini diambil agar pertumbuhan ekonomi
kawasan tidak hanya bertahan, tetapi juga merata. Berikut adalah tiga prioritas
yang resmi disepakati:
- Pasar
Modal Kebal Guncangan: Membangun ekosistem pasar modal yang tidak
hanya tangguh, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
- Era
Baru Transaksi Lintas Negara: Mempercepat konektivitas sistem
pembayaran regional, memungkinkan transaksi antarnegara ASEAN menjadi
lebih mulus dan cepat.
- Kesehatan
Finansial Akar Rumput: Menjadikan ketahanan finansial masyarakat
sebagai standar dan dimensi baru dalam mengukur kesuksesan inklusi
keuangan.
"Inisiatif ini dirancang untuk mendobrak batasan,
memperluas akses keuangan, dan yang terpenting, mendongkrak kesejahteraan
masyarakat di seluruh kawasan ASEAN," tegas Filianingsih.
Gebrakan Project Revive dan Jaring Pengaman ASA
Kekuatan ekonomi domestik dan investasi yang terjaga memang
menjadi tulang punggung ketangguhan ASEAN saat ini. Namun, para pembuat
kebijakan sadar itu tidak cukup.
Sebagai langkah konkret, kawasan ini mulai memberlakukan
cetak biru Finance Sectoral Plan 2026–2030 yang akan menjadi kompas
menuju ASEAN Community Vision 2045. Selain itu, ASEAN juga menyuntikkan
inisiatif Project Revive—sebuah langkah perombakan total untuk
menyempurnakan struktur dan tata kelola kerja sama keuangan.
"Agar Project Revive tidak hanya menjadi macan
kertas, butuh komitmen baja dari seluruh anggota. Ini akan menjadi wadah
efektif untuk membedah isu makroekonomi hingga memitigasi risiko kawasan,"
tambah Filianingsih.
Tidak berhenti di situ, kawasan ini juga meresmikan jaring
pengaman baru bernama ASEAN Swap Arrangement (ASA). Skema ini dirancang
khusus untuk memproteksi integrasi keuangan, memperkuat ketahanan eksternal,
sekaligus memastikan 'amunisi' cadangan devisa tiap negara tetap aman jika
sewaktu-waktu pasar keuangan global terguncang.
Sikat Sindikat Scam dan Fokus Transisi Hijau
Selain urusan stabilitas makro, keamanan uang masyarakat
juga menjadi sorotan. Percepatan pembayaran lintas batas kini diiringi dengan
sistem pertahanan berlapis untuk menyikat habis risiko kejahatan siber seperti fraud
dan scam.
Di sisi lain, ASEAN mulai agresif membuka keran pembiayaan
ramah lingkungan. Baik dana publik maupun swasta akan dimobilisasi
besar-besaran untuk menyuntikkan modal pada proyek iklim, mempercepat langkah
negara anggota menuju era ekonomi rendah karbon yang lebih bersih dan
berkelanjutan.
